Pintu Air Manggarai
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia
bebas
Dalam pengoperasiannya, Pintu Air Manggarai terkait erat dengan Pintu Air Karet.
Sejarah
Sejarah Pintu Air Manggarai terkait dengan pembangunan Kanal Banjir Barat, dimulai dengan adanya ide menghubungkan Kali Krukut dengan Kali Ciliwung, sehingga mengalihkan aliran air yang selama ini menggenangi Menteng dan Weltevreden. Dengan pengaturan air sejak dini dari bagian selatan Jakarta, diharapkan beban banjir di pusat kota pada masa itu lebih ringan.Prof. Herman van Breen adalah arsitek yang bertanggung jawab membuat perencanaan pengendalian banjir melalui Kanal Banjir Barat, sistem polder, dan rencana Kanal Banjir Timur pada masa itu. Namun hingga 2003, hanya Kanal Banjir Barat yang berhasil diwujudkan. Akibatnya air hanya mengalir dari yang seharusnya menggenangi Jakarta Pusat, beralih menggenangi daerah yang lebih rendah di Manggarai dan Jatinegara. Barulah setelah pemerintahan Presiden Megawati, ide itu kembali dilanjutkan melalui Kanal Banjir Timur. [2]
Tumpukan sampah
Pintu Air Manggarai menghadapi masalah tumpukan sampah setiap tahun yang menganggu kerja pintu air. Hal ini disebabkan buruknya kesadaran warga dalam manajemen sampah serta pemukiman warga yang dibangun di atas kali Ciliwung. Pada tahun 2011, penjaga pintu air menyatakan sampah bisa mencapai 100 meter kubik setiap harinya, dan meningkat tiga kali lipat saat banjir. [3]Wakil Gubernur pada periode tersebut, Prijanto, pernah menegur buruknya penanganan sampah yang menyebabkan memburuknya banjir.[4]Pada tanggal 24 Desember 2012, Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama menyatakan bahwa telah menjalin komunikasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengganti mesin pengeruk sampah yang telah lama rusak. Selama terjadi kerusakan, fungsi mesin ini digantikan oleh ekskavator.[5]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar